Kunjungan Museum Rendah, Ini Salah Kepala Solusinya

Museum memiliki peranan besar bagi sumber pengetahuan dan wawasan. Selain jadi sarana rekreasi, dengan mengunjungi museum, masyarakat juga dapat memiliki rujukan visual sekaligus merasakan peristiwa sejarah di masa lalu.

WE Online, Jakarta

Museum memiliki peranan tumbuh bagi sumber pengetahuan dan paham. Selain sebagai sarana rekreasi, dengan mengunjungi museum, masyarakat juga dapat memiliki referensi visual sekaligus merasakan peristiwa sejarah di masa lalu.

Namun, dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Museum untuk Tingkatan Milenial yang dilaksanakan pada tarikh 2018 lalu, ditemukan fakta kalau tingkat kunjungan masyarakat ke museum masih sangat rendah, terutama generasi milenial. Hal ini disebabkan sebab berbagai faktor. Salah satunya adalah masih banyaknya museum yang invalid proaktif dalam menarik minat pengunjung melalui media baru.

Baca Juga: Sambangi Museum Bang Yos, Bamsoet Dorong Penguasa Publik Berikan Inspirasi ke Generasi Bujang

Jasmine Rahma Amalia, alumni Program Menuntut Komunikasi Universitas Pertamina, meneliti petunjuk ini dalam beberapa bulan belakang. Ia mempresentasikan risetnya bertajuk “Tourism in Digital Era: The Influence of Digital Marketing on the Intention to Visit Museum” dalam ajang The 6th International Conference on Political and Social Sciences yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Baik dan Politik Universitas Sebelas Maret.

Dalam penelitian pertamanya tersebut, Jasmine memaparkan bahwa saat ini penting bagi museum buat meningkatkan minat kunjungan masyarakat menggunakan unggahan informasi dan aktivitas di media sosial serta menguatkan electronic word of mouth (E-WOM). Kedua unsur digital marketing ini, menurut Jasmine, sudah berhasil dilakukan oleh Museum Bank Indonesia. Atas kegigihannya, penelitian Jasmine memperoleh kesempatan untuk diterbitkan pada jurnal internasional terindeks scopus, yakni Malaysian Journal of Communication, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Melalaikan beragam penelitian terapan seperti yang digagas Jasmine, Universitas Pertamina kembali membuktikan diri sebagai kampus penelitian. Dalam usia yang masih bujang, baru lima tahun, Universitas Pertamina mampu menduduki posisi 19 kampus paling produktif menghasilkan riset dalam Indonesia. Perguruan tinggi milik Pertamina ini juga bertengger di kedudukan 74 dari sekitar 3. 000 kampus di portal SINTA (Science and Technology Index) milik Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Mulia yang mengukur kinerja iptek universitas di Indonesia.

Selain Jasmine, Ramadani Haris, alumni Agenda Studi Komunikasi Universitas Pertamina lainnya juga mendapat kesempatan untuk mengetengahkan penelitiannya yang berjudul “Strategi Media Relations di Marketing Operation Region VII PT Pertamina (Persero)” di dalam kegiatan Konferensi Media Digital (KOMEDI) 2020 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UPN Veteran Jawa Timur.

Dalam penelitiannya, Ramadani menemukan beragam kegiatan hubungan media yang dijalankan Fungsi Komunikasi dan CSR Pertamina MOR VII, berhasil mempertahankan dan meningkatkan citra perusahaan yang membangun di masyarakat.

Keberhasilan kedua alumni tersebut tentu tak terlepas dari bimbingan para pengajar di Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina. Ita Musfirowati Hanika, S. A. P, M. I. Kom, AMIPR, selaku dosen pembimbing ke-2 alumni mengatakan bahwa masa kini, metode pembelajaran idealnya harus bisa memotivasi para mahasiswa untuk menghasilkan penelitian terapan.

“Tujuannya agar mahasiswa dapat belajar mencari masalah praktis sehingga mereka lebih siap untuk terjun di dunia industri, ” tutupnya.

You may also like