Cuan! Sri Mulyani Pamer Ekonomi Digital RI Tembus Rp500 Triliun

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, potensi ekonomi digital di Indonesia ditaksir mencapai US$40 miliar atau setara Rp585, 90 triliun. Angka itu seiring dengan penerapan digital dalam negeri yang merasai peningkatan signifikan beberapa tahun belakang ini.

WE Online, Jakarta

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, potensi ekonomi digital di Indonesia ditaksir menyentuh US$40 miliar atau setara Rp585, 90 triliun. Angka itu berbarengan dengan penggunaan digital dalam negeri yang mengalami peningkatan signifikan kira-kira tahun terakhir ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, potensi ekonomi digital Indonesia meningkat lima kali lipat semenjak 2015 lalu.

Baca Juga: Utang Pemerintah Rp5. 756 Triliun, Sri Mulyani Hati-Hati

“Sebuah kenaikan yang sangat cepat dengan magnitude yang makin besar. Jadi, potensinya sangat besar, ” kata dia dalam Webinar Nasional Peta Hidup Pemerintah Menuju Transformasi Digital dalam Bidang Ekonomi, Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Bahkan, dalam lima tahun ke depan potensi ukuran ekonomi digital Indonesia diperkirakan naik menjadi US$133 miliar. Jumlah tersebut setara dua kali lipat sejak nilai ekonomi digital di Thailand.

Proyeksi tersebut didorong dan disumbangkan dari pajak pembesaran nilai (PPN) digital yang tiba diresmikan sejak 1 Juni 2020 lalu. Per September 2020 ini, pemerintah mengantongi pajak digital sebab pelaku usaha Perdagangan Melalui Bentuk Elektronik (PMSE) sekitar Rp96 miliar. Perusahaan yang dikenai pajak digital di antaranya, Spotify, Netflix, serta Amazon.

“Dalam periode beberapa bulan, kami dapatkan dekat Rp96 miliar dari beberapa perusahaan yang sudah dimintakan dari PPN, ” katanya.

Bekas Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengutarakan, penguatan pajak juga didorong dalam Undang-Undang Nomor 2 Tarikh 2020. Dia bilang, pemerintah mengesahkan atau memandatkan kepada perusahaan-perusahaan digital bisa beroperasi meskipun mereka dengan fisik mereka tidak hadir di Indonesia. “Mereka hanya beroperasi & memberi pemasaran yang luas, ” kata dia.

Tersedia 36 perusahaan telah ditunjuk jadi pemungut PPN digital. Pada aliran pertama, enam perusahaan telah terdaftar sebagai pemungut PPN gelombang baru, yakni Amazon Web Services Inc, Google Asia Pacific Pte. Ltd, Google Ireland Ltd, Google LLC, Netflix International B. V, dan Spotify AB.

Di dalam gelombang kedua, terdapat 10 perusahaan yang juga ditunjuk sebagai pengutip PPN. Adapun kesepuluh perusahaan itu adalah Facebook Ireland Ltd, Facebook Payments International Ltd, Facebook Technologies International Ltd, Amazon. com Services LLC, Audible, Inc, Alexa Internet, Audible Ltd, Apple Distribution International Ltd, Tiktok Pte. Ltd, & The Walt Disney Company (Southeast Asia) Pte. Ltd.

Pada gelombang ketiga terdapat 12 perusahaan, yakni LinkedIn Singapore Pte. Ltd, McAfee Ireland Ltd, Microsoft Ireland Operations Ltd, Mojang AB, Novi Digital Entertainment Pte. Ltd, PCCW Vuclip (Singapore) Pte. Ltd, Skype Communications SARL.

Gelombang terakhir, ada delapan kongsi, yakni Alibaba Cloud (Singapore) Pte Ltd, GitHub, Inc, Microsoft Corporation, Microsoft Regional Sales Pte. Ltd, UCWeb Singapore Pte. Ltd, To The New Pte. Ltd, Coda Payments Pte. Ltd, dan Nexmo Inc.

Sebelumnya, di 2021 nanti, pemerintah juga bakal fokus pada pembangunan teknologi komunikasi dan informasi (ICT). Total anggaran dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2021 mencapai Rp30, 5 triliun (termasuk melalui TKDD) yang akan difokuskan untuk mengakselerasi transformasi digital.

Partner Sindikasi Konten: Okezone

You may also like