Kenapa Nadiem Pilih Neflix, Padahal Tidak Buatan Anak Bangsa?

Kebijakan Mendikbud Nadiem Makariem menggandeng Netflix dinilai tidak memiliki keberpihakan pada industri dalam negeri.  Berbagai pihak menyoroti kebijaksanaan pemerintah melalui Kemendikbud yang malah menggandeng pihak asing untuk kesibukan edukasi tersebut.

WE Online, Jakarta

Kebijakan Mendikbud  Nadiem Makariem menggandeng Netflix dinilai tidak memiliki keberpihakan pada pabrik dalam negeri.

 

Berbagai pihak menyoroti kebijakan pemerintah melalui Kemendikbud dengan malah menggandeng pihak asing buat urusan edukasi tersebut.

 

“Saya meminta rasa  keberpihakan ini harus kita munculkan, ” kata  Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)    Pusat Yuliandre Darwis, Jakarta, Sabtu (20/6/2020).  

 

Baca Juga: Perkuat Program Belajar di Rumah, Kemendikbud Bawa Dokumenter Netflix Masuk TVRI

 

Dia mengatakan pemerintah seharusnya bisa  menggunakan aset dalam negerinya, hal tersebut akan membantu industri dalam negeri.  

 

Yuliandre membeberkan bila kerja sama tersebut buat tujuan edukasi, sebenarnya Indonesia mempunyai anak-anak bangsa yang karyanya tidak kalah bagus dengan produk impor. Terlebih, tujuan akhirnya juga bermuara pada menumbuhkan industri domestik, jadi hal itu patut mendapatkan sokongan dari pemerintah.  

 

“Ketika merembes ke dunia over the sempurna atau media Internet ini, hamba pikir memang ada opsi-opsi dengan harus dipahami secara baik, khususnya menggunakan industri dalam negeri, ” kata Yuliandre.  

 

Adapun, bagian Komisi I DPR Muhammad Iqbal menilai keputusan Kemendikbud tersebut benar janggal. Dia tidak sependapat secara keputusan menggandeng perusahaan digital langka, Netflix.

 

Baca Juga: Peduli Pendidikan, Pendiri Netflix Bangun Retret Mewah untuk Para Guru Sekolah

 

Menurutnya, kehadiran Netflix pada Tanah Air sejak awal datang saat ini belum ada kontribusinya ke negara. “Seharusnya, Kemendikbud menarik perusahaan digital dalam negeri & saya yakin banyak perusahaan digital anak bangsa yang mampu melakukannya tanpa harus menggandeng perusahaan asing, ” ungkapnya.

 

Hal senada diungkapkan Ketua Komisi X DPR MENODAI Syaiful Huda.   Dia menilai film dokumenter yang diputar melalui TVRI itu dinilai tidak akan memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas anak bangsa.

 

Huda menyebutkan selama proses belajar daripada rumah, siswa memang membutuhkan hiburan-hiburan berkualitas yang memuat unsur pelajaran. Namun demikian, seharusnya kebutuhan itu diberikan kepada talent maupun vila produksi lokal.

 

“Kami merasa penuh anak bangsa yang lebih kreatif untuk membuat film dokumenter, hidup pendek, hingga panduan belajar untuk peserta didik selama masa menelaah dari rumah, ” ujar Huda.  

 

Baca Juga: Bersaing dengan Netflix dkk, Platform Video Streaming Gojek Dapat Suntikan Modal Independen

 

Kritik tajam juga disampaikan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).   FSGI menyatakan langkah Kemdikbud merangkul Netflix tidak menyelesaikan persoalan pembelajaran jarak jauh di masa pandemi Covid-19. Kalau ingin aman dan produktif, sepatutnya dilihat dari apa kebutuhan mendasar siswa.

 

“Yang dibutuhkan anak (siswa) dan guru selama pembelajaran jeda jauh adalah listrik dan Internet gratis, ” ujar Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Satriwan Salim.  

 

Pada kesempatan lain, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pelajaran Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengutarakan Kemendikbud telah menyeret sektor pelajaran di Tanah Air menjadi sektor menguntungkan dan propasar.  

 

Dia bahkan mendesak kerja sesuai dengan Netflix dihentikan.

 

“Ini menunjukkan pendidikan kita kian komersial dan pro pasar, ” kata Ubaid.  

 

Sebagaimana diketahui, Kemendikbud mengumumkan menghadirkan film dokumenter Netflix yang ditayangkan melalui program Belajar dari Rumah (BDR) dalam melalui TVRI mulai 20 Juni 2020. Upaya itu dilakukan Kemendikbud untuk memastikan agar dalam era yang sulit ini masyarakat terus mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelaahan dari rumah, salah satunya mencuaikan media televisi dengan jangkauan terluas di Indonesia.


Pengeluaran HK

You may also like