Terbuka Serapan Domestik Sawit, B30: Terampil Punggung

Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Gajah Keuangan (PMK) nomor 57/PMK. 05/ 2020 tentang Tarif Layanan Umum Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit pada Kementerian Keuangan telah resmi menaikkan tarif ekspor minyak sawit dan produk turunannya.

WE Online, Jakarta

Pemerintah Indonesia melalui Susunan Menteri Keuangan (PMK) nomor 57/PMK. 05/ 2020 tentang Tarif Layanan Umum Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit pada Kementerian Keuangan telah resmi menaikkan tarif ekspor patra sawit dan produk turunannya.

Beleid ini menetapkan kemajuan pungutan sebesar US$5/ton menjadi US$55/ton untuk ekspor minyak sawit anom ( crude palm oil /CPO) per 1 Juni 2020 lalu. Kalangan pelaku industri sawit dan petani dapat mengerti pertimbangan pemerintah terkait kenaikan kutipan ekspor tersebut.

Baca Juga: Di Tengah Pandemi, Caturwulan I-2019 VS Caturwulan I-2020, Ekspor Minyak Sawit?

Ketua Bidang Komunikasi Gapki, Tofan Mahdi, mengatakan, “Kebijakan bayaran ekspor kelapa sawit tidak sungguh-sungguh buruk di tengah kondisi dengan sulit akibat pandemi. Pemerintah lestari serius dalam penyelamatan industri kelapa sawit. ”

Tofan juga menjelaskan bahwa di tengah anjloknya harga minyak mentah, pemerintah tetap berupaya menjalankan keberlangsungan kalender mandatori B30. Program biodiesel adalah tulang punggung untuk menjaga penyerapan sawit di pasar domestik. Cara ini menjadi penting di zaman pelemahan pasar ekspor sawit.

Lebih lanjut Tofan menjelaskan, “Mandatori B30 ini menyediakan bagian untuk memasok sawit bagi hajat dalam negeri. Jelas ini (B30) menggembirakan. Pasar merespons bagus, itu terlihat sepekan terakhir harga patra sawit mulai positif. ”

Kementerian ESDM mencatat, realisasi volume penyaluran biodiesel pada kuartal I-2020 sebesar 2, 17 juta kilo liter (KL) atau 90, 4 persen dari permintaan pembelian ( purchase order /PO), sebesar 2, 4 juta KL.

You may also like